Sabtu, 22 Maret 2008

Ikuti Kata Hatimu?

Salah satu nasihat yang sering diucapkan banyak orang ketika kita menghadapi masalah adalah, “follow yourheart,” ikuti kata hatimu. Banyak orang yang percaya kalau suara hati itu selalu benar, jujur, tidak pernah ngebohong. Maka selalu dengarkan kata hatimu. Tapi apa bener demikian?

Nanti dulu. Sebetulnya tidak ada satupun manusia yang bisa menentukan satu perbuatan itu benar atau salah. Seperti kalau kita ditanya; bohong itu baik atau buruk sih? Pacaran itu sehat atau nggak? Marah itu pantas atau tidak? Atau saat teman-teman kita menawarkan segelas minuman keras atau bahkan narkoba, pilihan apa yang harus kita lakukan ; mengikuti kata hati yang mengajak pada solidaritas pergaulan atau menolak dengan resiko dicap ‘anak mami’ atau ‘sok alim’. Seringkali hati kita bimbang dan kebingungan menghadapi berbagai pilihan. Tentu saja, karena hati kita bukanlah ‘wasit’ yang selalu bisa memimpin sebuah pertandingan dengan fair atau adil. Terkadang hati juga bisa terpeleset pada pilihan yang salah.

Buat kita, lazimnya orang Indonesia, membuka aurat – apalagi telanjang – di depan umum itu memalukan. Tapi sebagian orang di dunia suka bertelanjang di muka umum; di pantai, di pemandian umum bersama orang lain, atau para model yang difoto untuk sampul majalah, dsb. Bagi mereka hal seperti itu sah saja. Hati mereka tidak merasa bersalah ataupun malu karena menganggap hal itu adalah benar.

Kalau kamu suka membaca budaya berbagai bangsa di dunia kita mungkin bisa terkejut. Ada suku yang tanda ucapan salam adalah dengan saling meludah, ada juga yang terbiasa merayakan hari-hari kegembiraan mereka dengan minum minuman keras, sementara ada suku lain yang kanibal, memangsa sesama manusia. Bagi mereka, perbuatan-perbuatan itu adalah sebuah kebenaran.

Maka, seandainya kita diminta menentukan sendiri perbuatan baik dan buruk untuk diri kita, dijamin kita akan bingung sendiri. Salah-salah manusia bisa hidup seperti hewan yang hidup tanpa aturan. Akhirnya, manusia sendiri yang akan sengsara.

Itulah sebabnya agama kita, Islam, datang dengan sejumlah aturan untuk kebaikan manusia. Nggak cuma menyuruh manusia menyembah Allah, tapi juga hidup sesuai dengan aturanNya. Kenapa kita harus hidup dengan aturan Allah? Karena Allah yang menciptakan kita, pastinya Ia juga yang Mahatahu yang baik dan buruk bagi kita.

Misalnya – ini cuma permisalan --, kalau kamu sakit, pastinya kamu datang ke dokter untuk berobat dan tidak akan pergi ke bengkel las. Dan ketika dokter yang memeriksamu memberi saran untuk banyak istirahat, menghindari makan makanan tertentu dan banyak minum vitamin, kamu akan patuh. Kenapa? Karena kamu percaya dokter lebih tahu dari siapapun mengenai masalah kesehatan – apalagi dibandingkan tukang las --.

Karena Allah yang menciptakan kita, sudah pada tempatnya kita berjalan mengikuti apa yang diminta Allah. Dan nggak mungkin juga Allah meminta kita melakukan atau melarang sesuatu bila tidak ada kebaikannya buat kita. Ketika Allah meminta kita untuk menjauhi minuman keras, itu pasti ada kebaikan yang Allah inginkan buat kita. Bisa kita buktikan sekarang betapa miras itu merusak kesehatan dan juga menyebabkan orang berbuat kejahatan. Atau drugs itu selain merusak badan, juga mendorong orang berbuat kriminal dan menghancurkan masa depan seseorang.

Percaya saja, kalau kita coba-coba melanggar aturan Allah maka manusia sendiri yang bakal sengsara. FirmanNya:

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”(Ar Rum [30]:41).

Sekarang orang panik dengan penyebaran penyakit AIDS. Ini penyakit yang serius, yang tiap tiga menit satu orang terinfeksi. Sepertiga dari pengidap virus HIV di dunia ini adalah remaja. Sebabnya adalah merebaknya gaya hidup bebas. Banyak di antara mereka ketika melakukan perbuatan tercela itu berprinsip ‘ikuti kata hatimu’. Tawuran di kalangan remaja juga tidak kunjung menurun, sebabnya mereka berbuat tanpa berpikir masak-masak, mereka hanya mengikuti ‘apa kata hati’.

‘Apa kata hati’ tidak menjamin kebenaran. Satu-satunya yang benar adalah apa yang ditentukan oleh Allah. Walaupun hati kita tidak suka, misalkan shalat yang terkadang kita malas mengerjakannya, belum mau berjilbab karena mungkin malu dan belum pede, masih sulit meninggalkan pacaran, tetap saja itu semua adalah kebenaran. Hati kitalah yang masih dikuasai oleh hawa nafsu, belum mau menerima kebenaran yang hakiki.

Pilihan yang benar itu tidak selalu pilihan yang mungkin menyenangkan kita. Mungkin harus kita hadapi dengan berbagai macam kesukaran. Dijauhi teman gara-gara menolak ajakan mereka ‘minum-minum’, disuruh shalat atau diminta belajar serius oleh orang tua, mengerjakan PR padahal teman-teman kita sedang jalan-jalan di mall, tidak berpacaran karena dilarang oleh orang tua, adalah sebagian kebaikan yang mungkin suka kita tempatkan sebagai ‘musuh’.

Lalu apa yang harus kita kerjakan ketika menghadapi masalah? Jangan tergesa-gesa mengambil keputusan, ambil waktu untuk berpikir dengan sehat; pikirkan perbuatan mana yang tidak membuat kita menjadi berdosa. Tundukkan hati kita pada yang pilihan yang Allah mau. Dengan mengikuti apa yang Allah ridloi pilihan kita pasti benar, di dunia juga di akhirat. Kata Rasulullah saw.

“Belum sempurna iman seseorang sampai hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa,” (hadits hasan shahih tercantum dalam Kitab Hadits Arba'in An Nawawi)..

Read More..

Dewasa Itu Pilihan

Ini memang saya baca dari pamflet iklan yang tersebar dimana-mana. Lengkapnya bunyi pamflet itu adalah; Tua Itu Pasti, Dewasa Itu Pilihan. Tentu yang dimaksud oleh si pembuat iklan adalah memilih produknya itu adalah pilihan mereka yang berpikir dewasa.

Bagi kita, soal dewasa atau tidak itu penting. Sangat penting, malah. Sebal rasanya kalau kita dicap 'belum dewasa' oleh orang lain. Jangan begini, jangan begitu, kamu belum dewasa. Dunia pun serasa runtuh. Ingin rasanya kita teriak pada orang-orang kalau kita sudah dewasa. "Hey, aku sudah berumur enam belas tahun, aku sudah kelas dua SMU, aku sudah dewasa!" mungkin begitu isi teriakan kita.

Sayangnya saya harus berterus terang pada kamu, para remaja, banyak di antara kita – termasuk orang tua – yang salah mengartikan kata 'dewasa'. Kalau kamu beranggapan dewasa itu sama dengan bertambahnya umur, berarti jawabanmu benar dan salah. Benar, karena secara biologis kamu sudah dewasa. Kamu, para cowok, sudah mimpi basah, badanmu sudah memproduksi sel sperma, jakunmu mulai tumbuh, dan dagumu sudah berjenggot. Kamu, para cewek, kamu sudah datang bulan, tubuhmu sudah memproduksi sel telur, dan kamu sudah siap menjadi seorang wanita.

Tapi jawabanmu salah karena dewasa juga diukur dari caramu berpikir dan caramu bersikap. Inilah kedewasaan yang harus kita miliki. Percaya atau tidak, tidak semua orang dewasa juga mampu berpikir dewasa.

Sekarang, seberapa sering kamu melalaikan sholat lima waktu? Berapa kali kamu sengaja membocorkan puasa Ramadlan? Bisakah kamu bersabar ketika orang tua memarahimu saat kamu salah? Pernahkah kamu mengaku salah dan minta maaf pada orang lain atas kesalahanmu? Pernahkah kamu menepati janji dengan orang lain, seperti datang tepat waktu? Itu sebagian dari 'ujian' kedewasaan.

Jadi, jangan dulu mengaku dewasa kalau kita nggak sholat shubuh tapi masih bisa cengar-cengir. Atau nggak malu pada orang lain walaupun sering ingkar janji, atau tidak pernah minta maaf walau sudah jelas-jelas kita berbuat salah. Menjadi dewasa meminta kita untuk menjadi orang yang siap dengan segala tanggung jawab, baik sesama manusia atau dari Allah SWT. Kalau kita sering menghindar dari tanggung jawab, ngeles, itu artinya kita belum dewasa. Itu adalah tipikal anak-anak. Ketika seorang anak merebut mainan dari temannya sehingga menangis, ia akan lari pulang ke rumahnya. Bersembunyi di belakang punggung ibu atau bapaknya. Atau ketika mereka ramai-ramai mencuri mangga dan tertangkap basah, anak-anak biasanya saling melempar kesalahan. Apakah kita masih begitu, melempar tanggung jawab pada orang lain?

Maka 'dewasa' itu bukan hanya milik orang dewasa. Ali bin Abi Thalib ra. sudah dewasa ketika masih kanak-kanak. Sayyidina Ali termasuk assabiqunal awwalun, golongan pertama yang memeluk Islam. Saat Rasulullah saw. mengajaknya beriman, masuk ke dalam Islam, ia sempat meminta izin pada orang tuanya, tapi ia membatalkan niatnya itu sambil berkata, "Allah saja tidak pernah meminta izin pada orang tuaku untuk melahirkanku ke alam dunia." Ia pun masuk Islam tanpa meminta izin pada orang tuanya.

Saat Rasulullah saw. dan Abu Bakar Ash Shiddiq akan hijrah ke Yatsrib, beliau meminta Ali untuk tidur di ranjangnya, sebagai tipuan untuk orang-orang Quraisy yang telah mengepung rumah Rasulullah saw. Para pemuda musyrik Quraisy yang mengintip rumah Rasulullah saw. pun menyangka Rasulullah saw. masih terlelap di kasurnya. Tapi ketika mereka mendobrak masuk mereka hanya mendapati Ali. Tapi Ali tidak gentar. Ia menatap mata mereka dan berdebat dengan mereka.

Usamah bin Zaid ra. adalah remaja berumur 18 tahun yang memimpin peperangan melawan negara adidaya Romawi. Para prajurit yang dipimpinnya adalah veteran perang Badar yang jauh lebih tua, dan sebagian sudah bersama Rasulullah saw. selama bertahun-tahun. Tapi Rasulullah saw. mempercayakan pasukannya dipimpin Usamah.

Bahwa semua orang umurnya akan bertambah dan menjadi tua, itu memang sunnatullah, pasti. Tapi tidak semua orang siap dan mampu menjadi dewasa. Maka tidak usah menunggu umurmu bertambah untuk menjadi dewasa. Jadilah orang yang berpikir dewasa sekarang. Berpikirlah dewasa sejak saat ini. Caranya? Belajarlah menjadi orang dewasa; kenali dan pelajari arti tanggung jawab, meminta maaf, berkorban untuk orang lain, menghormati orang lain, berjuang untuk agama, patuh pada orang tua, amanah, jujur, cinta dan kasih, dsb.

Bila kamu menghayati Islam, memahaminya dan menjadikannya sebagai panduan dan cahaya hidupmu, maka kamu akan tumbuh sebagai orang 'dewasa'. Karena agama kita adalah tuntunan yang akan membawa kita dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang.
.

Read More..

Bersatulah wahai Umat Muhammad !

Kita-manusia- telah tercipta oleh Tuhan Yang Maha Esa Allah SWT sebagai makhluk sosial yang senantiasa memerlukan orang lain, untuk saling bantu, saling melengkapi dari segala kekurangan yang masing-masing dimiliki oleh kita. Manusia semenjak nenek moyang kita Adam as dan Hawa turun di bumi ini selalu melakukan aktifitas bersama-sama. Sangat kecil kemungkinannya seorang manusia akan merasa bahagia dan tersalurkan kebutuhannya tanpa adanya manusia yang lainnya.

Manusia telah terbiasa bersuku-suku berbangsa-bangsa ini kemudian mengangkat satu pemimpin untuk dapat mengatur hubungan kehidupan antara mereka, hingga terciptalah kehidupan yang harmonis yang indah yang setiap individu merasa dibutuhkan dan membutuhkan orang lain.

Berkenaan dengan ini Islam datang menata, dan memberikan system masyarakat yang ada menjadi sebuah bentuk masyarakat penuh rasa kekeluargaan yang tak ada perbedaan disana antara bangsa, suku, bahasa dan perbedaan-perbedaan lainnya yang kadang dari sanalah benih perpecahan masyarakat tiba karena kekurangan dan kelebihan yang masing-masing dimiliki. Adalah Rasulullah SAW datang memberikan kabar gembira ini dimulai dari tanah arab hingga tersebar di seluruh penjuru dunia, yang hingga saat ini umatnya telah melebihi dari separuh bumi Allah ini. Diaman dia mengabarkan bahwa Islam tidak membedakan antara si A dengan si B, antara si kulit putih dengan si kulit hitam antara penududuk bangsa A dengan B, semua sama rata, hanya ketakwaan yang membedakannya di mata Tuhan. Kemudian Nabi Muhammad SAW memberikan sapaan yang indah kepada manusia yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dengan panggilan : Wahai saudaraku Muslim ! tidak perduli dia dari bangsa mana , golongan orang arab atau dari luar arab, semua sama : Muslim! Bersabda Nabi kita Muhammad SAW:

Tidak ada yang dilebihkan dari seorang arab ataupun luar arab, antara orang berkulit merah (hitam) atas orang berkulit putih, kecuali dengan taqwa (HR alBazary, hadits rijalnya shahih)

Maka tak ada panggilan di dalam alquran dengan lafaz : wahai orang arab, wahai ahli Quraisy, wahai bani A, bani B, karena inilah agama untuk seluruh manusia hingga akhir zaman sebagaimana Rasulullah SAW adalah penutup rentetan seluruh nabi dan rasul yang diutus Allah di muka bumi ini, dan sebagai penyempurna segala ajaran Allah sebagai petunjuk jalan terang bagi manusia.

Kemudian Islam mengajarkan manusia agar bersatu dan menjadikan wala'nya hanya kepada Allah dan Rasul-Nya, tanpa adanya taasub berlebih kepada masing-masing golongannya.

Berfiirman Allah : Artinya : "Sesungguhnya wali kamu sekalian adalah Allah rasulnya dan orang-orang yang beriman yaitu mereka yang mengerjakan shalat dan membayar zakat sedang mereka sekalian rukuk. Dan barang siapa yang berwala' kepada Allah dan rasul-Nya serta orang-orang yang beriman maka sungguh golongan Allah ini adalah mereka yang akan menang". (Surat Almaidah 55-56)

Maka ketika Allah menyatukan umat ini dalam satu wadah Islam , Rasulullah memberi kewajiban kepada masing-masing umatnya agar saaling membantu mempererat tali ukhuwah ini agar terjaga tanpa adanya perceraiberaian disana, sebagai contoh dari sabdanya : "Tolonglah saudaramu yang dhalim ataupun yang didhalimi! Berkata sahabat : wahai Rasulullah kami bisa memberi pertolongan kepada orang yang didhalimi (ditindas) tapi bagaimana menolong orang yang dhalim ? Rasul menjawab : mencegah dia dari perbuatan dhalim adalah pertolongan untuknya ". (HR Bukhari dan Turmudzi)

Maha benar perkataanmu wahai Khairul anam, sangat indah katamu hingga begitu mudah dipahami kita semua.

Maka demikianlah bahwa asas kedatangan Islam di bumi ini adalah persatuan, adalah pembawa rahmat untuk seluruh alam, maka tak pelak bahwa segala ajarannya juga sangat menganjurkan akan persatuan manusia. Sebagai contoh awal adalah adanya bulan suci Ramadhan ini. Sebagai salah satu ajaran inti umat Islam .

Semua manusia bisa menyaksikan dimana berjuta manusia diseluruh pelosok dunia entah si kaya atau si miskin entah presiden ataupun rakyat jelata, semua serentak berpuasa bersama , dimulai dari tanggal satu hingga akhir ramadhan nanti. Tak ada yang menggerakkan mereka semua dari kalangan presiden , atau sekumpulan dari presiden terbaik di dunia, tak ada yang memaksa mereka, kecuali sebuah ketaatan mereka atas sang Maha Presiden disana yaitu Allah ! Sang Raja Diraja yang menguasai segala alam ini, yang mampu memberikan kebahagiaan hakiki kepada siapa yang taat, juga yang sanggup meluluh lantakkan segala cipta-Nya dengan izin-Nya.

Maka dalam puasa tak boleh seseorang merahasiakan jika dia melihat hilal (bulan sabit) tanda kedatangan bulan ramadhan atau berakhirnya,tapi dia dituntut untuk memberi tahu teman-teman dan seluruh manusia akan kedatangan bulan ini, sebagai wujud amal jama'i dia, sebagai didikan Islam untuk saling hidup berjamaah. subhanallah

Contoh kedua adalah dalam shalat jamaah, shalat yang menjadi tiang agama Islam ini dianjurkan agar terlaksana dengan berjamah, bershaf lurus di satu tempat menghadap satu arah yang tak dibedakan disana antara yang berpangkat ataupun yang tidak berpangkat yang banyak duit atau yang banyak hutang. Semua sama… berniat ikhlas demi ketaatan perintah Allah. Bahkan jika ada seseorang yang shalat sendirian dibelakang shaf jamaah diwajibkan baginya untuk mengulang shalatnya sebagai mana hadits yang diriwayatkan abu Dawud dan Turmudzi(hadist hasan). Maka tak heran jika diriwayatkan ada seorang Yahudi di mesir yang merasa iri dengan umat Islam ketika dia mengetahui adanya syariat shalat dalam agama islam ini, yang teratur, yang mengajarkan persatuan ummat, persama rataan umat, dalam satu panji ketaatan pada Tuhan, hingga akhirnya membuat hatinya lembut dan masuk agama ini. Allahu Akbar

Demikian juga disyariatkannya zakat di dalam Islam, adalah salah satu wujud kesatuan hati umat. Satu hati antara mereka yang mampu dan mereka kaum dhuafa (lemah). Dimana zakat menyadarkan mereka yang berlebih harta bahwa semua itu hanyalah sebuah barang titipan Ilahi yang akan diminta pertanggung jawabannya di akhirat nanti dimana dia pergunakan harta itu, maka akan terbentuklah jiwa si kaya yang tawadhu dan menyayangi si miskin, kemudian bagi yang lemah juga akan merasa dia tidak sendiri dalam mengarungi kekurangannya di dunia ini, hingga timbul padanya rasa hormat dan terlahirlah kasih suci darinya dan timbullah keharmonisan dalam bermasyarakat.

Demikianlah sedikit contoh akan inti ajaran agama Islam dalam mempersatukan ummatnya. Maka di bulan yang suci ini marilah kita kembali kaji inti dan kita renungi ajaran kita ajaran Islam yan sempurna ini, bahwa di segala ajarannya menganjurkan kita pemeluknya agar kita saling bersatu antara kita. Islam tak pernah mengajarkan adanya perpecahan, pencacian, bahkan naudzubillah peperangan sesama.. Ingatlah bahwa kita adalah satu tubuh satu jasad yang bila diantara kita sakit maka seluruh kita akan sakit sebagaimana sabda Rasul SAW dalam hadits mutafaq alaih (lihat Lu'lu wal Marjan hal :6171)

Hingga akhirnya dapat kita simpulkan bahwa tak ada artinya hidup ini tanpa adanya berjamaah dalam artian berkumpul, bersatu hati dalam satu naungan panji yaitu Islam, tanpa taasub berlebihan dengan negara suku bangsa dsbnya. Kemudian setelah itu kewajiban kita memelihara persatuan ini dengan saling menghormati antara umat, tidak saling mencaci ataupun menjatuhkan antar sesama. Perbedaan dan kekurangan adalah fitrah manusia yang kita telah tercipta sebagai makhuk yang salah dan lupa, tak ada manusia yang sempurna dan lepas dari keduanya kecuali Rasulullah yang ma'sum. Kemudian kita dituntut untuk berusaha satu hati dengan sesama kita mencintai mereka sesuci-suci cinta kita, sebagaimana sabda nabi SAW: Artinya : Tidak sempurna iman kamu sekalian hingga mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri (HR Mutafaq 'Alaih)

Banyaknya uji coba yang melanda umat Islam di penjuru dunia hingga di bumi kita Indonesia sendiri selama ini tak lebih dan tak kurang adalah suatu uji coba dari Allah SWT untuk umat-Nya, seberapakah cinta mereka kepada sesama Islam, akankah cinta mereka akan goyah dengan jargon-jargon para kafirin dan tekanan-tekanan mereka , juga akankah cinta mereka kepada kafirin melebihi cinta mereka kepada sesama Muslim, hingga hilanglah wala' mereka, sebagaimana firman Allah diatas tadi. Bahkan semua ini jika kita mau membuka mata lebar-lebar hanyalah usaha mereka untuk mengegolkan pendapat keji mereka sendiri, dan ingin akhirnya akan memberangus umat Islam semua. Telah terbukti tak ada untungnya bersatu dengan para kafirin. Tak ada untungnya memberikan sokongan kepada mereka, karena dari merekalah segala kerusakan dunia ini lahir, kemudian telah nyata bahwa merekalah musuh Allah. Akankah kita membela musuh Allah sedang Allah sendiri ingin mengadzab mereka?

Demi Allah wahai saudaraku ! Seandainya ada seorang muslim dosanya memenuhi antara bumi dan langit sedang dia masih mengakui laa ilaaha illah, dia masih lebih baik daripada seorang kafir yang bahkan sebagai pemimpin satu dunia sekaligus, karena sang muslim masih mengakui akan kebenaran Ilahy, sedang sang kafir tidak mengakuinya yang artinya melawan perintah Ilahy sang Penciptanya.

Sebagai lazimnya manusia, kita adalah ahli maksiat semua, yang sudah lazim kita berbuat dosa dan salah maka tak pantas bagi kita saling menjelekkan sesama kita apalagi malah memerangi sesama kita, yang akan membuat tepuk tangan keras para musuh Allah itu. Ingatlah kita semua punya nama satu : Muslim!. Yang tak boleh adanya cacian, pembunuhan antara kita, kecuali dengan hak dan wajib bagi kita semua menjaga keindahan ukhuwah ini bersama.

Akhirnya segala doa marilah kita panjatkan kepada Allah untuk memperlembut hati-hati kita semua agar wala' kita hanya kepada Dia, Rasul-Nya dan para mukminin di muka bumi ini.
Wallahu a'lam

Rahmanto, Mesir, 19 sya'ban 1923 H
.

Read More..

Rabu, 05 Maret 2008

Duhai Kaum Muslimin

Duhai Kaum Muslim……TENANGLAH, SEKALIPUN TAK ADA PENGUASA YANG MEMBELA KALIAN TAPI ADA ALLAH DAN SEGOLONGAN UMAT YANG AKAN MEMBANTU KALIAN, ALLAH MAHA MELIHAT LAGI MAHA MENGETAHUI APA YANG TERJADI, DAN APA YANG TERJADI INI HANYA SESAAT SAJA BILA DITIMBANG DENGAN API NERAKA YANG HARUS KITA RASAKAN UNTUK SELAMA-LAMANYA DI AKHIRAT DENGAN DI SAKSIKAN OLEH PARA SAHABAT, RASULULLAH, JUGA ALLAH (BETAPA MALUNYA KITA PADA-NYA) KETIKA KITA TIDAK MENOLONG AGAMA-NYA TENANGLAH WAHAI KAUM MUSLIM…. SELAMA DARAH MASIH MENGALIR DALAM TUBUH DAN KEIMANAN KEPADA SANG KHALIQ TERUS TERTANAM PARA PENGGANTI SAHABAT RASULULLAH AKAN MEMPERJUANGKAN KALIAN DAN AGAMA-NYA WAHAI KAUM MUSLIM…. JANGAN PERNAH MENETESKAN AIR MATA DI HADAPAN KAUM KAFFIR, JANGAN PERNAH MEMBIARKAN MEREKA MELIHAT KALIAN MERINTIH KARENA HAL ITU AKAN MEMBUAT MEREKA TERTAWA TERBAHAK-BAHAK. INGAT!!!! KALIAN ADALAH ASET SURGA KERINGAT KALIAN SEDIKITPUN TIDAK AKAN DISIA-SIAKAN OLEH-NYA. Allahu Akbar !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!.

Read More..
Template by - Abdul Munir - 2008