Sabtu, 22 Maret 2008

Bersatulah wahai Umat Muhammad !

Kita-manusia- telah tercipta oleh Tuhan Yang Maha Esa Allah SWT sebagai makhluk sosial yang senantiasa memerlukan orang lain, untuk saling bantu, saling melengkapi dari segala kekurangan yang masing-masing dimiliki oleh kita. Manusia semenjak nenek moyang kita Adam as dan Hawa turun di bumi ini selalu melakukan aktifitas bersama-sama. Sangat kecil kemungkinannya seorang manusia akan merasa bahagia dan tersalurkan kebutuhannya tanpa adanya manusia yang lainnya.

Manusia telah terbiasa bersuku-suku berbangsa-bangsa ini kemudian mengangkat satu pemimpin untuk dapat mengatur hubungan kehidupan antara mereka, hingga terciptalah kehidupan yang harmonis yang indah yang setiap individu merasa dibutuhkan dan membutuhkan orang lain.

Berkenaan dengan ini Islam datang menata, dan memberikan system masyarakat yang ada menjadi sebuah bentuk masyarakat penuh rasa kekeluargaan yang tak ada perbedaan disana antara bangsa, suku, bahasa dan perbedaan-perbedaan lainnya yang kadang dari sanalah benih perpecahan masyarakat tiba karena kekurangan dan kelebihan yang masing-masing dimiliki. Adalah Rasulullah SAW datang memberikan kabar gembira ini dimulai dari tanah arab hingga tersebar di seluruh penjuru dunia, yang hingga saat ini umatnya telah melebihi dari separuh bumi Allah ini. Diaman dia mengabarkan bahwa Islam tidak membedakan antara si A dengan si B, antara si kulit putih dengan si kulit hitam antara penududuk bangsa A dengan B, semua sama rata, hanya ketakwaan yang membedakannya di mata Tuhan. Kemudian Nabi Muhammad SAW memberikan sapaan yang indah kepada manusia yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dengan panggilan : Wahai saudaraku Muslim ! tidak perduli dia dari bangsa mana , golongan orang arab atau dari luar arab, semua sama : Muslim! Bersabda Nabi kita Muhammad SAW:

Tidak ada yang dilebihkan dari seorang arab ataupun luar arab, antara orang berkulit merah (hitam) atas orang berkulit putih, kecuali dengan taqwa (HR alBazary, hadits rijalnya shahih)

Maka tak ada panggilan di dalam alquran dengan lafaz : wahai orang arab, wahai ahli Quraisy, wahai bani A, bani B, karena inilah agama untuk seluruh manusia hingga akhir zaman sebagaimana Rasulullah SAW adalah penutup rentetan seluruh nabi dan rasul yang diutus Allah di muka bumi ini, dan sebagai penyempurna segala ajaran Allah sebagai petunjuk jalan terang bagi manusia.

Kemudian Islam mengajarkan manusia agar bersatu dan menjadikan wala'nya hanya kepada Allah dan Rasul-Nya, tanpa adanya taasub berlebih kepada masing-masing golongannya.

Berfiirman Allah : Artinya : "Sesungguhnya wali kamu sekalian adalah Allah rasulnya dan orang-orang yang beriman yaitu mereka yang mengerjakan shalat dan membayar zakat sedang mereka sekalian rukuk. Dan barang siapa yang berwala' kepada Allah dan rasul-Nya serta orang-orang yang beriman maka sungguh golongan Allah ini adalah mereka yang akan menang". (Surat Almaidah 55-56)

Maka ketika Allah menyatukan umat ini dalam satu wadah Islam , Rasulullah memberi kewajiban kepada masing-masing umatnya agar saaling membantu mempererat tali ukhuwah ini agar terjaga tanpa adanya perceraiberaian disana, sebagai contoh dari sabdanya : "Tolonglah saudaramu yang dhalim ataupun yang didhalimi! Berkata sahabat : wahai Rasulullah kami bisa memberi pertolongan kepada orang yang didhalimi (ditindas) tapi bagaimana menolong orang yang dhalim ? Rasul menjawab : mencegah dia dari perbuatan dhalim adalah pertolongan untuknya ". (HR Bukhari dan Turmudzi)

Maha benar perkataanmu wahai Khairul anam, sangat indah katamu hingga begitu mudah dipahami kita semua.

Maka demikianlah bahwa asas kedatangan Islam di bumi ini adalah persatuan, adalah pembawa rahmat untuk seluruh alam, maka tak pelak bahwa segala ajarannya juga sangat menganjurkan akan persatuan manusia. Sebagai contoh awal adalah adanya bulan suci Ramadhan ini. Sebagai salah satu ajaran inti umat Islam .

Semua manusia bisa menyaksikan dimana berjuta manusia diseluruh pelosok dunia entah si kaya atau si miskin entah presiden ataupun rakyat jelata, semua serentak berpuasa bersama , dimulai dari tanggal satu hingga akhir ramadhan nanti. Tak ada yang menggerakkan mereka semua dari kalangan presiden , atau sekumpulan dari presiden terbaik di dunia, tak ada yang memaksa mereka, kecuali sebuah ketaatan mereka atas sang Maha Presiden disana yaitu Allah ! Sang Raja Diraja yang menguasai segala alam ini, yang mampu memberikan kebahagiaan hakiki kepada siapa yang taat, juga yang sanggup meluluh lantakkan segala cipta-Nya dengan izin-Nya.

Maka dalam puasa tak boleh seseorang merahasiakan jika dia melihat hilal (bulan sabit) tanda kedatangan bulan ramadhan atau berakhirnya,tapi dia dituntut untuk memberi tahu teman-teman dan seluruh manusia akan kedatangan bulan ini, sebagai wujud amal jama'i dia, sebagai didikan Islam untuk saling hidup berjamaah. subhanallah

Contoh kedua adalah dalam shalat jamaah, shalat yang menjadi tiang agama Islam ini dianjurkan agar terlaksana dengan berjamah, bershaf lurus di satu tempat menghadap satu arah yang tak dibedakan disana antara yang berpangkat ataupun yang tidak berpangkat yang banyak duit atau yang banyak hutang. Semua sama… berniat ikhlas demi ketaatan perintah Allah. Bahkan jika ada seseorang yang shalat sendirian dibelakang shaf jamaah diwajibkan baginya untuk mengulang shalatnya sebagai mana hadits yang diriwayatkan abu Dawud dan Turmudzi(hadist hasan). Maka tak heran jika diriwayatkan ada seorang Yahudi di mesir yang merasa iri dengan umat Islam ketika dia mengetahui adanya syariat shalat dalam agama islam ini, yang teratur, yang mengajarkan persatuan ummat, persama rataan umat, dalam satu panji ketaatan pada Tuhan, hingga akhirnya membuat hatinya lembut dan masuk agama ini. Allahu Akbar

Demikian juga disyariatkannya zakat di dalam Islam, adalah salah satu wujud kesatuan hati umat. Satu hati antara mereka yang mampu dan mereka kaum dhuafa (lemah). Dimana zakat menyadarkan mereka yang berlebih harta bahwa semua itu hanyalah sebuah barang titipan Ilahi yang akan diminta pertanggung jawabannya di akhirat nanti dimana dia pergunakan harta itu, maka akan terbentuklah jiwa si kaya yang tawadhu dan menyayangi si miskin, kemudian bagi yang lemah juga akan merasa dia tidak sendiri dalam mengarungi kekurangannya di dunia ini, hingga timbul padanya rasa hormat dan terlahirlah kasih suci darinya dan timbullah keharmonisan dalam bermasyarakat.

Demikianlah sedikit contoh akan inti ajaran agama Islam dalam mempersatukan ummatnya. Maka di bulan yang suci ini marilah kita kembali kaji inti dan kita renungi ajaran kita ajaran Islam yan sempurna ini, bahwa di segala ajarannya menganjurkan kita pemeluknya agar kita saling bersatu antara kita. Islam tak pernah mengajarkan adanya perpecahan, pencacian, bahkan naudzubillah peperangan sesama.. Ingatlah bahwa kita adalah satu tubuh satu jasad yang bila diantara kita sakit maka seluruh kita akan sakit sebagaimana sabda Rasul SAW dalam hadits mutafaq alaih (lihat Lu'lu wal Marjan hal :6171)

Hingga akhirnya dapat kita simpulkan bahwa tak ada artinya hidup ini tanpa adanya berjamaah dalam artian berkumpul, bersatu hati dalam satu naungan panji yaitu Islam, tanpa taasub berlebihan dengan negara suku bangsa dsbnya. Kemudian setelah itu kewajiban kita memelihara persatuan ini dengan saling menghormati antara umat, tidak saling mencaci ataupun menjatuhkan antar sesama. Perbedaan dan kekurangan adalah fitrah manusia yang kita telah tercipta sebagai makhuk yang salah dan lupa, tak ada manusia yang sempurna dan lepas dari keduanya kecuali Rasulullah yang ma'sum. Kemudian kita dituntut untuk berusaha satu hati dengan sesama kita mencintai mereka sesuci-suci cinta kita, sebagaimana sabda nabi SAW: Artinya : Tidak sempurna iman kamu sekalian hingga mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri (HR Mutafaq 'Alaih)

Banyaknya uji coba yang melanda umat Islam di penjuru dunia hingga di bumi kita Indonesia sendiri selama ini tak lebih dan tak kurang adalah suatu uji coba dari Allah SWT untuk umat-Nya, seberapakah cinta mereka kepada sesama Islam, akankah cinta mereka akan goyah dengan jargon-jargon para kafirin dan tekanan-tekanan mereka , juga akankah cinta mereka kepada kafirin melebihi cinta mereka kepada sesama Muslim, hingga hilanglah wala' mereka, sebagaimana firman Allah diatas tadi. Bahkan semua ini jika kita mau membuka mata lebar-lebar hanyalah usaha mereka untuk mengegolkan pendapat keji mereka sendiri, dan ingin akhirnya akan memberangus umat Islam semua. Telah terbukti tak ada untungnya bersatu dengan para kafirin. Tak ada untungnya memberikan sokongan kepada mereka, karena dari merekalah segala kerusakan dunia ini lahir, kemudian telah nyata bahwa merekalah musuh Allah. Akankah kita membela musuh Allah sedang Allah sendiri ingin mengadzab mereka?

Demi Allah wahai saudaraku ! Seandainya ada seorang muslim dosanya memenuhi antara bumi dan langit sedang dia masih mengakui laa ilaaha illah, dia masih lebih baik daripada seorang kafir yang bahkan sebagai pemimpin satu dunia sekaligus, karena sang muslim masih mengakui akan kebenaran Ilahy, sedang sang kafir tidak mengakuinya yang artinya melawan perintah Ilahy sang Penciptanya.

Sebagai lazimnya manusia, kita adalah ahli maksiat semua, yang sudah lazim kita berbuat dosa dan salah maka tak pantas bagi kita saling menjelekkan sesama kita apalagi malah memerangi sesama kita, yang akan membuat tepuk tangan keras para musuh Allah itu. Ingatlah kita semua punya nama satu : Muslim!. Yang tak boleh adanya cacian, pembunuhan antara kita, kecuali dengan hak dan wajib bagi kita semua menjaga keindahan ukhuwah ini bersama.

Akhirnya segala doa marilah kita panjatkan kepada Allah untuk memperlembut hati-hati kita semua agar wala' kita hanya kepada Dia, Rasul-Nya dan para mukminin di muka bumi ini.
Wallahu a'lam

Rahmanto, Mesir, 19 sya'ban 1923 H
.

Template by - Abdul Munir - 2008